Tuesday, 23 July, 2019

Para Elit 02 Dianggap Hambat Rekonsiliasi Karena Banyak Permintaan


Para Elit 02 Dianggap Hambat Rekonsiliasi Karena Banyak Permintaan

Peneliti Departemen Politik dan Perubahan Sosial dari CSIS, Arya Fernandes menilai bahwa rekonsiliasi antara calon presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto dengan presiden terpilih Joko Widodo yang tengah diwacanakan harus didorong dengan serius oleh kedua belah pihak.

Akan tetapi, menurut Arya saat ini masih terdapat beberapa elit partai politik yang berada di kedua kubu yang mencoba untuk menahan supaya rekonsiliasi tersebut tidak terjadi.

“Salah satunya adalah pertimbangan koalisi. Mungkin kalau terjadi rekonsiliasi ada kekhawatiran akan akan akomodasi didalam pemerintahan sehingga pemerintahan 5 tahun mendatang akan terlalu gemuk. Selain itu ada juga kekhawatiran akan ada perbedaan pada sikap politik,” kata Arya.

Arya menjelaskan bahwa faktor yang menentukan rekonsiliasi adalah komitmen dari Jokowi dan Prabowo termasuk juga parpol yang berada disekitar kedua tokoh tersebut.

Dirinya mengatakan bahwa seharusnya pada elit dari BPN Prabowo Sandi terutama yang tidak terafiliasi ke parpol menggunakan rekonsiliasi ini sebagai alat bargaining mereka untuk memenuhi keinginan mereka.

“Dari sisi 02 ini sudah jelas sekali permintaannya yaitu pemulangan HRS yang itu terlalu tinggi. Pemulangan HRS dengan rekonsiliasi itu adalah sesuatu yang berbeda dan tidak ada hubungannya sama sekali,” kata Arya.

Disisi lain, Arya juga menganggap bahwa ada elit yang beranggapan bahwa rekonsiliasi merupakan wadah untuk masuk ke dalam koalisi pemerintah sehingga sangat getol mendorong rekonsiliasi.

Arya menyarankan agar para elit ini harus memahami tujuan dan semangan dari rekonsiliasi yaitu komitmen untuk menyesuaikan perbedaan politik yang anda diantara kedua kubu.

Dengan mengerti arti rekonsiliasi tersebut, para elit pastinya tidak akan berpikir bagi-bagi jatah kue pemerintah ataupun melakukan bargaining terhadap pemerintah yang terpilih.

“Rekonsiliasi itu membutuhkan kesungguhan komitmen bersama untuk menyesuaikan perbedaan politik yang telah terpolarisasi hingga menuju perpecahan. Menurut saya itu, kalau mengakomodir kepentingan segelintir kelompok itu akan sangat mencederai inti dari rekonsiliasi tersebut,” katanya.