Wednesday, 13 November, 2019

Industri Infrastruktur Terus Bertumbuh Dengan Kapitalisasi Pasar Infrastruktur Mencapai Rp 865 Triliun


Industri Infrastruktur Terus Bertumbuh Dengan Kapitalisasi Pasar Infrastruktur Mencapai Rp 865 Triliun

Perkembangan dari pembiayaan infrastruktur, utilitas dan transportasi di pasar modal disebutkan telah menunjukan pertumbuhan yang cukup signifikan. Hal ini tercermin dari aktivitas perusahaan yang tercatat di BEI.

Dari 653 perusahaan yang tercatat di BEI, 74 perusahaan adalah perusahaan yang masuk kedalam industri infrastruktur, utilitas dan transportasi dengan kapitalisasi pasar yang total mencapai Rp 865 triliun.

Ini berarti, kontribusi perusahaan-perusahaan tersebu terhadap pasar mencapai 12 persen dari total kapitalisasi yang dimiliki oleh BEI saat ini.

Dari pencapaian tersebut, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna beranggapan bahwa pemanfaatan pasar modal di bidang infrastruktur, utilitas dan transportasi masihlah memiliki peluang yang besar.

“Tentu saja jumlah ini cukup signifikan dan kami mengharapkan kedepannya dapat tumbuh semakin tinggi,” kata Nyoman ketika membuka Seminar Komaps 100 CEO Update.

Dirinya menambahkan bahwa BEI akan mendukung dengan penuh hingga ke depan sehingga sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi nantinya dapat juga dibiayai oleh bursa.

Industri Infrastruktur Terus Bertumbuh Dengan Kapitalisasi Pasar Infrastruktur Mencapai Rp 865 Triliun

Untuk meningkatkan partisipasi pasar modal dalam hal ini pembiayaan infrastruktur, pihak bursa telah melakukan beberapa langkah.

Salah satu langkah adalah dengan menyetujui pencatatan Unit Penyertaan Dana Investasi Infrasturktur atau DINFRA didalam bentuk kontrak investasi kolektif Toll Road Mandiri 001 pada 12 April 2019 lalu.

KIK DINFRA ini cukup disambut dbaik oleh para pelaku pasar dengan dana yang berhasil dikumpulkan mencapai Rp 1,1 triliun.

Angka ini menggenapi aktivitas pembiayaan hingga mencapai Rp 22,5 triliun atau 17 persen dari total penggalangan dana melalui saham dan surat hutang BEI per 26 September 2019.

“Jalan tol ini merupakan isu yang sangat penting. Pasar modal memberikan dukungan untuk pengembangan industri jalan tol. Kami akan terus meningkatkan peran dari bursa dalam pembangunan nasional terutama untuk industri jalan tol,” jelas Nyoman.

Adapun kontribusi pasar modal hingga saat ini masih dibawah 50 persen terhadap total GDP yang telah mencapai Rp 7.161 triliun. Kondisi ini sama dengan Vietnam akan tetapi masih jauh dari pencapaian Singapura dan Malaysia yang sudah tercatat lebih dari 100 persen.

“Untuk dapat bersaing dengan mereka, kami mengupayakan kondisi pasar modal kedepannya yang dapat menjadi katalisator bagi pembiayaan pembangunan,” jelas Nyoman.

Keyakinan Nyoman ini tidaklah tanpa alasan karena hingga kuartal III 2019 ini aktivitas pasar modal telah menunjukan pertumbuhan yang signifikan.

Pada sisi perdagangan, nilai transaksi harian rata-rata telah mencapai Rp 9,5 triliuna tau tumbuh 11,5 persen dibandingkan tahun lalu begitu juga pada sisi frekuensi yang telah mencapai 468 ribu transaksi.

Sedangkan pada sisi jumlah investor saham, terdapat lebih dari 1 juta investor dengan catatan perhari adalah 5 ribu investor rata-rata.

“Angka-angka tersebut adalah yang terbaik di ASEAN,” tutup Nyoman.