Wednesday, 20 November, 2019

Ternyata Penyakit Yang Menghabiskan Dana JKN Paling Besar Adalah Diabetes


Ternyata Penyakit Yang Menghabiskan Dana JKN Paling Besar Adalah Diabetes

Ketua Center for Health Economics and Policy Studies Universitas Indonesia (CHEPS-UI), Prof Budi Hidayat S.KM., MPPM., PhD mengatakan bahwa sebenarnya diabetes menjadi penyakit yang menghabiskan dana paling banyak di Jaminan Kesehatan Nasional yang dikelola oleh BPJS.

Sayangnya hal ini tidaklah pernah disadari akan tetapi malah terkesan bahwa penyakit yang menghabiskan dana paling banyak adalah strok, penyakit jantung dan gagal ginjal. Padahal, menurut Budi, ketiga penyakit tersebut merupakan bagian dari komplikasi diabetes yang tidak terkontrol.

Menurut Budi, 73 persen pengidap diabetes di Indonesia tidaklah sadar bahwa dirinya mengidap penyakit tersebut. Mereka baru menyadari ketika diabetes telah berjalan empat hingga enam tahun ke depan yang sayangnya sudah menyebabkan berbagai komplikasi seperti stroke, penyakit jantung dan gagal ginjal.

Ternyata Penyakit Yang Menghabiskan Dana JKN Paling Besar Adalah Diabetes

“Oleh karna itu, jadinya terkesan penyakit yang menghabiskan dana JKN itu adalah stroke, penyakit jantung dan gagal ginjal padahal tidak karena ketiga penyakit tersebut merupakan komplikasi dari diabetes. Jadi kita harus stop di hulunya,” ungkap Budi.

Hal tersebut diungkapkan oleh Budi pada Pertemuan Ilmiah Tahunan Indonesian Health Economics Association ke-6 di Bali Nusa Dua Convention Center, Kabupaten Badung, Bali.

Rata-rata komplikasi tersebut muncul setelah empat tahun dari pertama kali pasien di diagnosa dengan diabetes. Budi pun menyayangkan bahwa selama ini ketiga penyakit itu dituduh sebagai penyakit yang menghabiskan dana paling besar di JKN.

“Diabetes itu tidaklah pernah diungkap. Padahal ini adalah sumber utamanya. Kalau pemerintah serius ini menurunkan tingkat penyakit tidak menular maka harus stop dari hulu ke hilirnya,” lanjutnya.

“Hal ini berarti bahwa kebijakan juga harus meliputi pencegahan terhadap diabetes sebagai primary prevention dan mencegah komplikasi sebagai secondary prevention,” jelas Budi.